Musik dan Kepedulian Alam Jadi Satu Di Tangan The Melting Minds dalam MV "In A Land"
The Melting Minds, band asal Wonosari, Gunungkidul jadi sorotan lewat Music Video, "In A Land". Hal pertama yang menarik perhatian dalam videonya adalah visual yang memanjakan mata dan sangat clean. Selain visualnya yang nyaman dilihat, MV “In A Land†ini memantik banyak tanda tanya terkait apa yang dibicarakan oleh lagu ini.
Rasa penasaran itu juga muncul karena keunikan musiknya. Musik psikedelik yang seringkali menghanyutkan dan “terbang,†Melting Minds mengemas musik ini dengan gairah yang padat dan tidak datar. Terlebih ada Iga Massardi yang memproduseri proses kreatif dari “In A Landâ€. Lagu ini terasa berisi dengan dinamika tempo yang mereka bawa, namun tetap asyik untuk dinikmati.
“Call it back to eighteen eighty three, Where the roots held the ground and trees, Every breath was a gift in the breeze, In a land of sacred minds from divine, we believed."
Bagian tersebut seolah mengajak kita untuk melihat masa lalu di mana bumi masih alami, tanah masih subur, udara segar yang tenang dan penuh berkah. Kondisi ini jelas kontras dengan kondisi alam sekarang yang pelan pelan rusak karena keserakahan manusia sendiri. Lagu ini juga berbicara mengenai krisis spiritual bahwa manusia bisa kehilangan jiwanya saat hubungan manusia denganalam tidak terjalin dengan baik. Secara tegas, lagu ini mempertebal ketakutan mereka tentang bagaimana generasi selanjutnya merasakan apa yang diperbuat manusia hari ini? Mengajak agar kita semua sadar dan memperbaiki apa yang telah rusak. Pada akhirnya, kita akan kembali mempertanyakan seperti yang dituangkan Melting Minds dalam In A Land di bagian akhir lagu mereka, “If not us, and then who?â€.